matahari tepat di atas kepala ku, artinya
waktu menandakan pukul 12 siang, memang sangat menyengat sekali di kulit terasa
terbakar.
siang itu minggu 26/2/12 rute perjalananku Jakarta – Tangerang –
Bogor lalu kembali ke Jakarta lagi, aku bukan di sengaja ataupun kebetulan
lewat kawasan situ gintung.
tetapi terasa memang bahwa Tuhan mengisyaratkan kepada
ku melalui pengeras suara sebuah masjid artinya waktu sholat dzuhur telah tiba.
dengan kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa motor ku arahkan
ke sebuah masjid bilangan situ gintung daerah cireundeu selatan Jakarta.
untuk segera menunaikan kewajiban ibadah sebagai
makhluk Tuhan yang di beri kelebihan di antara makhluk lainya.
lima belas menit kemudian setelah aku selesai sholat,
sejenak mengenang tragedi situ gintung, menarik nafas dalam2 dan siapakah yang
tidak pernah mendengar tragedi itu?
yaitu sebuah tragedi longsornya danau situ gintung maret 2009 yang memakan
banyak korban jiwa yang di temukan hingga korban jiwa yang terhanyut oleh air
danau situ gintung.
dan masjid yang berdiri itu tempat aku sholat adalah salah
satu saksi bangunan yang tak hanyut di terjang oleh air danau situ gintung di
bandingkan bangunan yang berada di sekelilingnya habis terhanyut.
kini tempat itu tak ada lagi berdiri
bangunan rumah, yang ada hanya berdiri tugu prasasti yang meninggalkan kenangan
suram.
sekali lagi aku banyak berucap syukur karena pada
waktu itu aku hanya melihat dari layar TV dan tidak berada di lokasi ini, semoga dari kejadian itu membuatku tidak lupa untuk selalu bersyukur.
betapa terpukulnya batin ini kalau saja aku berada di
tragedi longsornya situ gintung itu, lagi2 aku sangat bersyukur kepada Tuhan
yang maha kuasa dan aku masih di berikan kesempatan hidup hingga kini.
janganlah kamu berbuat murka di atas muka bumi ini, jika
Tuhan menghendaki maka pastilah akan terjadi dan tidak ada seorangpun yang bisa
mencegahnya.

