Selasa, 28 Februari 2012

Mengenang kejadian itu.

matahari tepat di atas kepala ku, artinya waktu menandakan pukul 12 siang, memang sangat menyengat sekali di kulit terasa terbakar.

siang itu minggu 26/2/12 rute perjalananku Jakarta – Tangerang – Bogor lalu kembali ke Jakarta lagi, aku bukan di sengaja ataupun kebetulan lewat kawasan situ gintung.
 
tetapi terasa memang bahwa Tuhan mengisyaratkan kepada ku melalui pengeras suara sebuah masjid artinya waktu sholat dzuhur telah tiba.

dengan kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa motor ku arahkan ke sebuah masjid bilangan situ gintung daerah cireundeu selatan Jakarta.

untuk segera menunaikan kewajiban ibadah sebagai makhluk Tuhan yang di beri kelebihan di antara makhluk lainya.

lima belas menit kemudian setelah aku selesai sholat, sejenak mengenang tragedi situ gintung, menarik nafas dalam2 dan siapakah yang tidak pernah mendengar tragedi itu?

yaitu sebuah tragedi longsornya danau situ gintung maret 2009 yang memakan banyak korban jiwa yang di temukan hingga korban jiwa yang terhanyut oleh air danau situ gintung.

dan masjid yang berdiri itu tempat aku sholat adalah salah satu saksi bangunan yang tak hanyut di terjang oleh air danau situ gintung di bandingkan bangunan yang berada di sekelilingnya habis terhanyut.

kini tempat itu tak ada lagi berdiri bangunan rumah, yang ada hanya berdiri tugu prasasti yang meninggalkan kenangan suram.

sekali lagi aku banyak berucap syukur karena pada waktu itu aku hanya melihat dari layar TV dan tidak berada di lokasi ini, semoga dari kejadian itu membuatku tidak lupa untuk selalu bersyukur.

betapa terpukulnya batin ini kalau saja aku berada di tragedi longsornya situ gintung itu, lagi2 aku sangat bersyukur kepada Tuhan yang maha kuasa dan aku masih di berikan kesempatan hidup hingga kini.

janganlah kamu berbuat murka di atas muka bumi ini, jika Tuhan menghendaki maka pastilah akan terjadi dan tidak ada seorangpun yang bisa mencegahnya.