
Ceritanya begini…
Ada seekor kuya… anda tau apa itu kuya? Yaitu keong atau semacam siput… dia tidak bisa lari, jangankan lari jalan saja pelan sekali selain itu juga dia tidak bisa memanjat pohon…
Suatu hari dia berada di pinggir kali… dan sedang menyelesaikan satu pekerjaanya, tiba tiba datang seekor monyet dan terjadilah percakapan...
Monyet : hei kuya… sedang apa kamu di situ?
Kuya : Sedang menanam tunas pisang nyet…
Monyet : buat apa kamu tanam tunas pisang? Tanya si monyet dengan muka sombong.
Kuya : biar tumbuh buah pisang dari pohon ini nyet, nanti kita makan sama2 buahnya…
Monyet : (dasar si kuya bodoh sudah tau tidak bisa manjat pohon pake nanem segala… ah biarkan sajalah paling2 juga nanti nyuruh saya manjat pohon untuk metik buahnya… nanti kan bisa saya bawa kabur) gumam si monyet dalam hatinya.
Dengan tekunya sikuya merawat pohon yang ia tanam, dan beberapa bulan kemudian pohon itu membuahkan hasil , dengan baik hati si kuya menawarkan kerjasama dengan si monyet.
Kuya : nyet, sekarang pohon yang saya tanam sudah berbuah.. saya mau kasih tawaran buat kamu untuk memetik buahnya dan hasilnya kita bagi dua, setuju tidak?
Monyet : tu kan… apa saya bilang tidak usah tanam pohon, lebih baik beli saja buahnya di pasar.
Kuya : kamu mau pisang tidak nyet?
Monyet : ok.. ( nanti saya bawa kabur pisangnya ) gumamnya dalam hati yang licik.
Akhirnya si kuya dan si monyet pun berangkat menuju ke pohon pisangnya… dalam perjalanan si kuya mengetahui akal busuknya si monyet, maka si kuya gak mau kalah dengan strateginya.
Kuya : nih nyet karungnya…
Si monyet langsung memanjat pohon pisang dan memetik satu persatu sambil memakan satu pisang selebihnya ia masukan kedalam karung.
Setelah buahnya habis dia petik dari pohon, rencan liciknya si monyet pun tetap berlanjut, dia bawa kabur karung yang berisi pisang ke atas pohon asam, setelah di atas pohon asam si monyet dengan nada meledek kepada sikuya…
“ dasar kuya… emangnya saya bisa di bodohin sama kamu, saya sudah mendapatkan sekarung buah pisang” teriak si monyet .
“terimakasih ya nyet…” balas teriak sikuya.
Tetapi alangkah kagetnya ketika si monyet membuka isi karungnya… ternyata karungya BOLONG dan tidak tersisa satupun pisang yang ia rampas dari si kuya.
Dan si kuya dengan rasa bersyukur membawa pulang sekarung buah pisang yang ia siapkan di bawah pohon sewaktu monyet memetiknya… “Alhamdulillah “ ucap si kuya.
demikian kisah dari si kuya dan si monyet.
Mudah mudahan anda bisa mengartikan makna cerita di atas… tentunya kita jangan sampai mempunyai sifat seperti monyet, yaitu RAKUS, LICIK, dan penuh dengan rencana busuk, mau enak sendiri… perut sudah kenyang tapi di mulut masih penuh makanan, terkadang di tangannya pun masih memegang makanan… dasar MONYET.
Terimakasih sampai ketemu di bacaan selanjutnya dengan cerita yang lain...