Selasa, 20 November 2012

Malam pertama.



Dunia semakin terang dari sinar mentari yang terus menyinari hati di pagi hari menghangatkan jiwa yang sedang sendiri, malampun bergganti dengan senyuman bulan yang belum sempurna menjadi purnama.

Hari itu memang sedikit menyimpan rasa penasaranku kepada seseorang yang baru aku kenal dari “dutabel” alias dunia tanpa kabel alias profider telekomunikasi yang kemudian tersambung dengan sms an begitulah kira kira ceritanya.

Ceritanya aku punya teman, temanku punya teman lagi, temanya temenku yang tadi memperkenal aku dengan temanya temanku.

Kita harus merajut tali pertemanan, karena itu kita wajib mengunjungi dari teman yang satu ke teman yang lainya agar tercipta sesuatu yang indah.

Sengaja aku datang ke kotamu waktu itu karena aku rindu denganmu, aku tancapkan tekad untuk berangkat kereta bergerak laju dengan tepat waktu, aku duduk di eksekutife satu sambil membayangkan wajahmu.

Pemandangan persawahan dan rerumputan yang kering pun terasa sejuk dan lebih hijau di mata karena hati yang sudah terhipnotis oleh perasaan yang ingin segera sampai di tujuan.

Kereta berhenti dengan hati hati, terasa sedikit panas udaranya setelah aku keluar dari gerbang stasiun kereta, tapi cuaca itu mampu di redakan dengan tukang tahu gejrot yang ada di samping pintu masuk stasiun.

Aku lihat dengan asiknya pak gejrot tadi sedang mengayunkan tanganya di sebuah cobek kecil yang terbuat dari tanah, terlihat beberapa biji cabai rawit kemudian di kasih kuah lalu di siramkan ke tahu yang di iris kecil kecil…  hemmm sedikit ngiler nih kelihatanya hahaa..

Cuaca panas di tambah makan tahu gejrot yang hot, baju pun basah kuyub karena keringat akibat kuah yang super pedas, justru itu menambah aku semangat untuk melangkah menyambut malam pertama.

Menunggu di muka pintu lalu menyapa seorang gadis dari balik kaca mobil yang gelap, aku tatap mukanya, aku salam lalu sambut tangan sedikit berdebar dalam dada... hadeuhh geulis pisan euy (tersenyum dalam batin karena bangga bisa ketemu)

Lanjut jalan jalan bersama membuat kenangan, jalan sepanjang jalan sambil mencari tempat yang pas dengan suasana di hati, lalu duduk satu bangku kau dan aku menyatu di malam minggu yang terasa haru.

Dari atas permukaan tanah dengan ketinggian miring alias di tebing, kami pun berencana menghabiskan malam sambil melihat pemandangan gemerlapnya sebuah kota yang terletak 3 jam ketimur dari ibu kota Jakarta, padahal pemandangan kalau di siang hari tu terlihat begitu gersang dan panas kata temen yang setia menemaniku hingga larut malam.

Tapi dari kegersangan itu berubah menjadi malam pertama yang begitu romantic, bersama neng geulis dengan sebuah klapa manis, sebuah lilin di atas meja dengan sedikit tiupan angin yang semilir menghampiri fikiranku untuk mencoba membuka awal pertemanan untuk selamanya… kaya lagi acting sinetron aja haha..

Malam itu sempat membuatku terpancing untuk memperpanjang waktu, ibarat permainan sepak bola yang belum final pada menit terakhir iya memang karena terasa waktu Cuma sebentar padahal sudah makan dan ngobrol panjang kali lebar hasilnya samadengan masih penasaran.

Namun apa boleh buat waktu yang singkat aku harus mempersilahkan neng geulis yang setia itu segera kembali kepada kedua orangtuanya.. kaya lirik lagu aja.

Aku rasa itu adalah satu permulaan yang tepat di malam pertama, itu sebuah pertemanan karena mendapat respon yang baik, jika tercipta malam pertama maka di pastikan akan ada malam kedua, ketiga dan selanjutnya, semoga rasa penasaranku tak akan hilang sampai kapanpun karena aku akan menunggu malam malam selanjutnya, karena mungkin suatu hari nanti kita kan bisa bersama untuk selamanya.

Indahnya bersamamu.