Dunia semakin terang dari sinar
mentari yang terus menyinari hati di pagi hari menghangatkan jiwa yang sedang
sendiri, malampun bergganti dengan senyuman bulan yang belum sempurna menjadi
purnama.
Hari itu memang sedikit menyimpan
rasa penasaranku kepada seseorang yang baru aku kenal dari “dutabel” alias
dunia tanpa kabel alias profider telekomunikasi yang kemudian tersambung dengan
sms an begitulah kira kira ceritanya.
Ceritanya aku punya teman,
temanku punya teman lagi, temanya temenku yang tadi memperkenal aku dengan
temanya temanku.
Kita harus merajut tali
pertemanan, karena itu kita wajib mengunjungi dari teman yang satu ke teman
yang lainya agar tercipta sesuatu yang indah.
Sengaja aku datang ke kotamu waktu
itu karena aku rindu denganmu, aku tancapkan tekad untuk berangkat kereta
bergerak laju dengan tepat waktu, aku duduk di eksekutife satu sambil
membayangkan wajahmu.
Pemandangan persawahan dan
rerumputan yang kering pun terasa sejuk dan lebih hijau di mata karena hati
yang sudah terhipnotis oleh perasaan yang ingin segera sampai di tujuan.
Kereta berhenti dengan hati hati,
terasa sedikit panas udaranya setelah aku keluar dari gerbang stasiun kereta,
tapi cuaca itu mampu di redakan dengan tukang tahu gejrot yang ada di samping
pintu masuk stasiun.
Aku lihat dengan asiknya pak
gejrot tadi sedang mengayunkan tanganya di sebuah cobek kecil yang terbuat dari
tanah, terlihat beberapa biji cabai rawit kemudian di kasih kuah lalu di
siramkan ke tahu yang di iris kecil kecil…
hemmm sedikit ngiler nih kelihatanya hahaa..
Cuaca panas di tambah makan tahu
gejrot yang hot, baju pun basah kuyub karena keringat akibat kuah yang super
pedas, justru itu menambah aku semangat untuk melangkah menyambut malam
pertama.
Menunggu di muka pintu lalu menyapa
seorang gadis dari balik kaca mobil yang gelap, aku tatap mukanya, aku salam lalu
sambut tangan sedikit berdebar dalam dada... hadeuhh geulis pisan euy
(tersenyum dalam batin karena bangga bisa ketemu)
Lanjut jalan jalan bersama membuat
kenangan, jalan sepanjang jalan sambil mencari tempat yang pas dengan suasana
di hati, lalu duduk satu bangku kau dan aku menyatu di malam minggu yang terasa
haru.
Dari atas permukaan tanah dengan
ketinggian miring alias di tebing, kami pun berencana menghabiskan malam sambil
melihat pemandangan gemerlapnya sebuah kota yang terletak 3 jam ketimur dari
ibu kota Jakarta, padahal pemandangan kalau di siang hari tu terlihat begitu
gersang dan panas kata temen yang setia menemaniku hingga larut malam.
Tapi dari kegersangan itu berubah
menjadi malam pertama yang begitu romantic, bersama neng geulis dengan sebuah
klapa manis, sebuah lilin di atas meja dengan sedikit tiupan angin yang semilir
menghampiri fikiranku untuk mencoba membuka awal pertemanan untuk selamanya…
kaya lagi acting sinetron aja haha..
Malam itu sempat membuatku
terpancing untuk memperpanjang waktu, ibarat permainan sepak bola yang belum
final pada menit terakhir iya memang karena terasa waktu Cuma sebentar padahal
sudah makan dan ngobrol panjang kali lebar hasilnya samadengan masih penasaran.
Namun apa boleh buat waktu yang
singkat aku harus mempersilahkan neng geulis yang setia itu segera kembali kepada
kedua orangtuanya.. kaya lirik lagu aja.
Aku rasa itu adalah satu permulaan
yang tepat di malam pertama, itu sebuah pertemanan karena mendapat respon yang baik, jika tercipta malam pertama
maka di pastikan akan ada malam kedua, ketiga dan selanjutnya, semoga rasa
penasaranku tak akan hilang sampai kapanpun karena aku akan menunggu malam
malam selanjutnya, karena mungkin suatu hari nanti kita kan bisa bersama untuk
selamanya.
Indahnya bersamamu.
