Selasa, 24 Januari 2012

Misteri lampu merah.

di setiap perempatan jalan raya pasti ada rambu rambu lalu lintasnya, apalagi seperti di Jakarta ini, ada pengatur lalulintasnya saja masih macet, apalagi kalo gak ada, gak usah anda bayangkan lebih baik pulang kampung saja.

Lampu merah, lampu kuning dan lampu hijau itu yang sering aku lewati setiap perempatan jalan, setiap hari, dan setiap kapan saja sesuka saya.

Tapi yang jadi pertanyaan buat saya kenapa orang jika memberikan arah petunjuk jalan selalu bilangnya lampu merah lalu belok kanan, belok kiri atao yang lainya?

Padahal kan lampunya tu ada tiga warna, dan belum tentu lampu yang di tunjuk itu warna merah bisa juga warna kuning, atao pas warna hijau yang sedang menyala.  aneh.??

Matematik lampu merah.

tidak semua orang suka dengan pelajaran matematik, rumus yang rumit, susah di mengerti sehingga mendapatkan nilainya sedikit, contohnya seperti saya.. hufftth. tapi sesungguhnya ilmu matematika adalah ilmu dasar  karena kita hidup ini penuh dengan transaksi dan spekulasi.

tidak sedikit orang yang menggunakan cara spekulasi guna mencukupi kebutuhan hidupnya, dari kalangan rekening yang membengkak hingga golongan orang yang gak punya rekening, masing2 mereka punya cara tersendiri untuk mendapatkanya.

Orang yang rekeningnya mendadak membengkak apabila ia mendapatkanya lampu hijau menyala, kita tau bahwa lampu hijau nyalanya sebentar di bandingkan lampu merah menyala yang lebih lama, jadi orang itu pintar pintar untuk memanfaatkan keadaan dan jabatanya sebelum lampu merah menyala.

Orang yang gak punya rekening alias pengemis pengangguran dan miskin, mereka memanfaatkannya pada lampu yang sedang menyala merah, karena agak lama maka ia menghitung berapa jumlah mobil yang berhenti dan ia mintai pada waktu itu.

Hitunganya kira2 begini.. lampu merah menyala jika di ambil rata rata setiap 60 detik atau 1 menit satu kali, seumpamanya dalam setiap lampu merah yang menyala mereka menghampiri rata rata berjejer 2 mobil yang ada di kanan kirinya dan berderet 10 mobil ke belakang berarti ada 20 mobil.

Sedikitnya pada kesempatan itu separuhnya yaitu 10 mobil memberikan masing masingnya Rp 500 (Lima Ratus Rupiah), uang recehan yang di anggap kecil jaman sekarang, berarti 10 mobil X Rp 500 sudah terkumpul Rp 5000 (Lima Ribu Rupuah) per menit atao dalam satu kali lampu merah menyala.

Selanjutnya, satu jam ada 60 menit, berarti kan sama dengan ada 60 X lampu merah itu menyala, kalo di hitung jadinya  60 menit X Rp 5000 = Rp 300,000 (Tiga Ratus Ribu Rupiah) per jam.

Setiap hari mereka rutin melakukan aktifitasnya sama halnya mereka yang ada di dalam gedung gedung bertingkat, jika mulai start di lampu merahnya pagi misalkan jam 8 sampai dengan jam 19 sore di potong 1 jam istirihat makan siang berarti 10 jam operasional setiap harinya, maka pendapatanya dalam satu hari adalah 10 jam X Rp 300,000 = Rp 3,000,000 (Tiga Juta Rupiah)per hari.

Sabtu minggu mereka libur karena sepi pengendara mobil menurut prediksi mereka, jadi  5 hari operasional dalam seminggu, atau 20 hari operasional dalam satu bulan, mereka dapat menghasilkan gaji sendiri dalam satu bulan yaitu 20 hari X Rp 3,000,000 = Rp 60,000,000 ( Enam Puluh Juta Rupiah ) per bulan.

Nah kalo setahun berarti 12 bulan X Rp 60,000,000 = Rp 720,000,000 (Tujuh Ratus Dua Puluh Juta Rupiah) per tahun, itu kalo di jalankan dengan lancar tanpa halangan, seumpamanya apes apesnya ketangkep sama orang yang berseragam ya paling paling cincaylah kasih rokok sebatang juga diem.

Jadi apa bedanya pemilik rekening mendadak membengkak dengan pengemis jalanan lampu merah mereka sama sama uangnya banyak, yang beda cuma caranya yang sama adalah mentalnya.