Senin, 27 Juni 2011

suasana beda di muara karang

Setelah seharian penuh melakukan aktifitas badan terasa penat di tambah perut lapar, aku ajak beberapa temen untuk menemaniku pergi mencari sesuatu

kamis malam 24/6 mencari suasana angin segar di tepi laut, aku pilih kampung nelayan tepatnya di pelabuhan muara karang Jakarta utara

biasanya sudah menjadi tradisi bagi beberapa temenku setiap malem jumat melakukan aktifitas sunah rosul di rumah masing masing

Kalo bagi orang kampung setiap malem jumat juga jarang yang keluar rumah, bakar kemenyan itu tradisinya yang sudah turun temurun

sampai sekarang aku sendiri belum begitu faham makna sesungguhnya sunah rosul dan bakar kemenyan, tapi itu semua tidak berlaku buat aku justru malem jumat aku manfaatkan untuk keluar, bukan sunah rosul dan juga bukan bakar kemenyan, tapi bakar ikan di tepi laut cuy..

Bakar ikan di kampung nelayan yang penduduknya rata2 nelayan adalah pemandangan yang baru buatku dan ketika aku masuk kawasan sana banyak di antara mereka yang menyambutku

Maklum baru kali pertama aku datang ke sana jadi terlihat asing dan sedikit bingung, rupanya mereka hanya sekedar menawarkan dagangan dan ikan segar hasil tangkapanya langsung dari laut

Beraneka ragam hasil tangkapannya dari yang kecil sampai yang besar dari ikan teri sampai ikan hiu pun ada pokoknya semua jenis ikan kita bisa liat di sana

Aku parker motor di tempat pusat makan ikan lalu pergi jalan menuju kawasan lelang ikan, keliling sambil melihat banyak jenis ada ikan, udang, cumi, kerang yang terlihat masih segar dan masih banyak yang lainya

suasana keramean negosiasi antara penjual dan pembeli membuat aku tertarik akhirnya aku pun ikut menawar beberapa macam ikan untuk di santap karena perut sudah tidak bisa di ajak nego lagi

Setelah harganya deal akupun langsung menuju ke tempat pembakaran ikan, di tempat ini kita boleh bakar sendiri dengan sesuka hati kalo pun gak mau repot ya tinggal kasih aja ke orang yang masak kita tinggal menunggu matengnya saja sambil mendengarkan music dan lagu karaokean ala pesisir pantai

hemmm.. sedapnya aroma bakar dengan beberapa macam sambal dan sayuran di hidangkan tepat di depan mataku sambil menunggu nasi, sedikit dari daging ikanya aku curi untuk di cicipi habis gak sabar hehe. pokoknya mak njlimut di lidah haha.. udah ah pokoknya selamat makan teman2 ya, maaf bagi temanku yang gak aku ajak bukanya aku gak cinta tapi lupa.

Bagi kalian pecinta seafood harus penasaran dengan tempat ini, memang kalau makan tidak ada bedanya dengan tempat2 lain, tapi di sini ada seninya tersendiri belanja ikan sendiri dan ada tawar menawar, harga cocok makanpun terasa nikmat juga ada suasana yang beda. Sampai ketemu di sana ya di kampung nelayan pelabuhan muara karang.

Senin, 20 Juni 2011

Indonesia culture

Bicara budaya di Indonesia ini sangat beraneka ragam dan banyak macamnya

Dari sabang sampai merauke memiliki budaya yang berbeda beda

Budaya di tanah jawa dan tanah sunda pun juga berbeda walaupun masih satu kepaulauan

Tapi di sini kita tidak akan membahas perbedaan budaya antara kita, justru kita akan mencari kesamaanya dalam berbudaya

Karena berbudaya yang sama akan menciptakan kedamaian dan keindahan dalam hidup

Smile culture atau budaya senyum

Jangan jual mahal tapi jual murahlah senyum kita, maka akan banyak orang yang senang melihatnya sebab kalau mahal senyum nanti akan banyak yang membenci

Tersenyumlah sekalipun kepada orang yang membenci kita, senyum dan lihatkanlah gigi kita kepada orang yang ada di hadapan kita karena hanya dengan senyumanlah yang dapat melunturkan rasa kebencian

Apakah kamu benci dengan senyuman?

Patient culture atau budaya sabar

Tahan emosi lalu di minta sabar memang terkadang menyakitkan, tapi dasarnya kita orang yang beriman ya harus tetap bersabar walaupun telinga panas dan hati terasa dangkal

bukan hanya usap usap dada atau ngaheyot gopok lincak imah, eta ngarana sabarna si cepot (bersiul duduk di bangku teras rumah itu namanya sabarnya si cepot)

kita kan bukan bangsa cepot tapi bangsa copet... eh maap salah, maksudnya bersabar tapi sambil terus berusaha

Jangan jadi sabarnya si cepot tapi sabare koyo deneng banyu ( sabarnya kaya sebuah air ) jika di bendung dia naik, jika tidak bisa naik maka dia merembes, artinya pantang menyerah

Apakah kamu akan menyerah tanpa bersabar?

budaya inilah yang harus sama antara kita, sabar dan senyum! ….. hayooo senyuuum… lagi.… lagi biar giginya keliatan hihihi.

Senin, 13 Juni 2011

Panggil aku TJ

hai TJ… temen2 memanggilku demikian, ini cerita semasa aku duduk di bangku sekolah menengah

Awal mulanya dari guru bahasa yang ramah dan cantik masa itu, memberikan pelajaran bahasa dan tulisan tempo dulu

Kebetulan beliau memberikan contoh tulisan namaku dengan ejaan lama di blackboard, ia tulis dengan kapur tulis warna putih ( Tjokro)

TJ adalah ejaan lama yang di baca C pada ejaan modern, jadi tulisannya Tjokro bacanya Cokro, begitu penjelasanya

Spontan dan dengan cepatnya nama TJ tersebar dan menembus hampir ke semua kelas yang ada

rupanya guru bahasa tadi memberikan contoh ke kelas2 yang lainpun menggunakan namaku, entah ada apa dengan guru bahasa sama aku? Aku tak tau.

keesokan harinya temen2 yang kebanyakan cewek mengidolakan inisial namaku aku baru dateng sambil jalan menuju kelas banyak yang menyapa

dari satu jurusan maupun jurusan lain bahkan sampai adik kelas, mereka semua menyapaku.. hei TJ. Yang lebih heran lagi hampir semua guru pun memanggilku TJ

terkenal sih memang pada masa itu bak artis dalam satu sekolah, karena aku yang paling tampan kali ya haha.. walah sombong kok baru sekarang, kemana aja aku ya hehe…

TJ ada kepanjangan yang lain juga lho, Tiang Jawi ( orang jawa ), Tampan dan Jujur, jadi kalo di artikan lebih luas lagi orang jawa yang tampan dan jujur hehehe…

Andai saja waktu bisa kembali ke masa lalu lagi ya pasti punya banyak teman banyak cerita sekarang sudah pada hidup masing2.

Halo temen2 aku sapa kalian andai saja ada yang baca tulisanku ini dan masih ingat panggilan TJ masa sekolah dulu, ini aku yang sekarang, hubungi aku ya kirim email : tjokro_pramono@yahoo.co.id atau fb : cokro pramono, atau ym : cokro_pramono, ok.

salam TJ

Senin, 06 Juni 2011

Puncak satu malam

Rabu 1 juni 11 berangkat dari mampang Jakarta selatan malam jam 19 lebih, aku dan temen2 touring menuju kawasan puncak bogor jawa barat

Padahal rencana awalnya jika bursa efek Indonesia meliburkan pada tanggal 3 juni mau berlibur ke pulau seribu ternyata T+3 bursa jatuh pada tanggal tersebut, yahh kita gak jadi liburan di pulau seribu dehh… keluh temen2

Tapi gak apa2 masih ada rencana B, tidak ada kata batal berlibur, tetep berangkat dan cabut ke puncak cuy.hujan deras mengguyur kota bogor, badan terasa menggigil perutpun ikut menggigil

berhenti dan isitirahat sejenak di daerah batu jajar makan nasi goreng kambing pete sambil menunggu hujan reda… hemm mantab

Memang benar bogor itu kota hujan, apa kebetulan saja ya aku lewat sana pas hujan, tapi di pikir2 kalo gak hujan siapa yang menyirami kebon raya bogor ya hehehe..

Ramainya kendaraan bermotor yang mayoritas warga Jakarta memadati sepanjang jalan raya menuju ke puncak aku pun harus berhati hati karena sudah malam, hujan jalanan licin dan rawan kecelakaan

Memang bener bener puncak setelah aku sampai paling atas, puncak di ketinggian, puncaknya malam jam 00.30, puncaknya mata ngantuk, puncaknya suasana dingin

Bang, di sini dinginya kaya di puncak ya? Tanyaku, Ini udah sampai di puncak cuy gak sadar lo? Jawab seorang abang yang memiliki julukan “perkasa alias peria kain sarung” yang perutnya kaya bedug... hehe jangan tersinggung bang kita kan sedang berlibur.

minum yang hangat hangat namanya sekuteng yang jelas rasanya jahe pake susu ada rotinya... hemm enak sambil melihat pemandangan kota bogor dari ketinggian di malam hari

dari atas puncak sungguh menakjubkan bagi yang masih penasaran coba aja deh satu malam, di sana tidak usah khawatir mau tidur di mana Karena di sana banyak tawaran vila harganya pun relative tergantung kamar dan fasilitasnya

perjalanan dari Jakarta jarak tempuhnya kira kira 85KM dan lebih dari 3 jam karena harus berhenti dan menuggu hujan sekitar jam 02.30 aku pun turun, berniat mencari penginapan untuk istirahat, bersyukur ada temen orang puncak yang punya vila tidak kalah bagusnya denga vila yang lainya

berapa aku harus bayar semalem nih mang? Sama mas cokro mah gak usah bayar kita kan temen.. jawabnya dengan baik hati, jadi free gak usah pake bayar hehe.. maturnuhun mang.

dalam perjalanan aku lihat papan reklame menunjuk ke lokasi wana wisata curug 7 cilember atau air terjun 7 sumber mata air rasa penasaran ingin melihat kesana, lokasi curugnya jauh gak mang dari sini? Aku tanya… deket kok mas, jalanya juga udah bagus, jawabnya.

Kalo gitu boleh gak besok pagi anterin aku ke sana? Boleh, mamangnya sambil tersenyum. Orang puncak ramah ramah lho.asiikk.. aku pikir sekalian aja jalan ke tempat wisata lainya mumpung masih di puncak

Curug 7cilember, kata warga sekitar sana memang ada tujuh curug dalam satu lokasi, aku cuma sampai di curug satu aja gak menyambangi yang lainya

Sebab yang 6 lagi adanya di atas rasanya gak sanggup, kaki gemeteran badan lemes kurang tidur, tapi setidaknya dengan cuci muka air curug dan udara yang sejuk membuat mata seger lagi

Hahh.. badan fress setelah merasakan kesejukan suasana malam puncak dan pagi di curug 7 cilember terasa betah di buatnya

Hari sudah mulai siang dan harus segera pulang ke Jakarta mengingat besoknya harus masuk kerja lagi walaupun tidak ada hari kejepit tapi perasaanku sudah lega menikmati liburan di puncak dan sekitarnya

o iya satu lagi yang sudah menjadi tradisi jika kita pergi ke tempat wisata yaitu ke tempat pasar souvenir nah tempat ini yang tidak pernah terlewatkan

sekedar oleh oleh cinderamata khas dari puncak bogor untuk kenang kenangan dan banyak pilihanya, jajananya pun banyak ragam ada asinan, ada laksa bogor hemm pokoknya enak deh.

Perjalanan pulang dapat aku laporkan arus lalu lintas sepanjang jalur puncak menuju bandung “padet merayap” demikian juga sebaliknya “ merayap padet”

Sungguh terasa liburan di puncak, bener bener puncak euyy… puncaknya kemacetan. Sampai jumpa lagi di puncak satu malam.