Fitrahnya air laut adalah pasang
dan surut, dari ombak yang bersahabat hingga bencana bagi orang yang tak mampu
mengarunginya.
Sama ada kehidupan kita di dunia,
ada kalanya hati bergembira ada juga hati yang terpukul akibat tak mampunya
mengelola rasa dalam hati.
Itulah masa masa kehidupan yang
sesalu bergelombang, ada masa dulu (duluhum) masa kini (kinihim) masa depan
(hadapan).
Masa dulu atau duluhum adalah
yang memiliki kisah yang tak berencana, karena tidak sedikit dari kita yang
mengalami kisah yang penuh rasa sesal.
Alhasil di masa kini atau kinihim baru menyadarinya apa yang terjadi di masa dulu.
Jadi biyarlah karena itu memang
masa yang di mana belum mendapatkan keterangan cahaya dalam fikiranya untuk
menjadi masa kini.
Hampir setiap individu mengalami
hal serupa, karena itu fitrah jadi tak perlu di sesali terlalu dalam, berjalan
saja untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik lagi.
Bagaimana dengan masa depan atau
hadapan, rencanakan penuh dengan
kematangan sikap dan langkah agar tidak terulang lagi kisah yang lalu di kisah
yang akan datang.
Bagaimana caranya? Biyarlah yang
lalu terus berlalu, dan yang ada di depan kejarlah tapi tidak dengan
keterburuan untuk melangkah, janganlah bersedih karena berita gembira itu pasti
akan datang kepada kita semua.
Biyarlah adalah bukan kalimat
pasrah, tapi biyarlah adalah suatu kalimat permintaan untuk menjadi terang di
dalam fikiran dan kehidupanya, kata orang jawa (yo mbok byarlah lampune ben
terang) artinya suatu permintaan atau do’a kepada yang di atas agar di berikan
petunjuk cahaya dalam hatinya. Amin.