Pada tahun 2005 bulan maret seorang pemuda
berasal dari jawa tengah mendatangi sebuah perusahaan di gedung bursa efek
Jakarta.
Dia adalah Reymon biasa di panggil mas Rey,
di panggil oleh perusahaan anggota bursa efek indonesia.
Lalu bergabung dan bekerja di perusahaan
tersebut sebagai consultan dengan penghasilan cukup lumayan pada masa itu.
Satu tahun berjalan pada bulan February 2006
dari sekian kandidat mas Rey terpilih
menjadi seorang manager karena dia di pandang yang paling cukup
baik dalam mengolah kinerja dan tata kramanya tentu ada banyak hal dan rintangan
namun itu semua bisa dia hadapinya dengan kesabaran dan tulus ikhlas.
Berbekal do’a dan semangat dari orang
tuanya mas Rey sangat serius dalam bekerja, karena dia bertekad merantau ke
kota besar hanyalah mencari pekerjaan semata2 untuk menghidupi diri dan membantu
orang tuanya yang sangat ia sayangi.
Tuntutan pekerjaan membuat ia harus extra
tenaga, kebijakan untuk mendapatkan partner pun ia ajukan ke perusahaanya guna
meringankan sekaligus mengefisiensikan tenaga dan waktu agar tetap berjalan
dengan sedia kala.
Iklan untuk asisten manager pun di
tayangkan di beberapa media cetak maupun elektronik khususnya internet oleh
perusahaan tersebut, tak lama beberapa hari kedepan para pelamar berdatangan
untuk di interview satu persatunya.
Dengan wajah optimisnya gadis cantik
lulusan sebuah lembaga pendidikan pariwisata di Sumatera selatan sanggup
melaksanakan tugas2 yang akan di berikanya, nama panggilanya Vany dia di terima
sebagai asisten manager yang akan membantu mas Rey.
Pada jam istirahat mereka makan bersama di
kantin yang terletak di basement gedung bursa efek Jakarta, di sela sela
makanya mas Rey bertanya kepada Vany.
“di mana kamu terakhir kerja dan kenapa
mau kerja di sini.?” Tanyanya.
“aku terakhir kerja di maskapai penerbangan
domestic di Palembang sumatera selatan dan baru kali ini aku kerja di jakarta,
aku hanya ingin menambah wawasan dan pengalaman di sini” jawab Vany.
Mas Rey merasa senang karena mendapatkan
teman di Jakarta yang bisa di ajak kerja sama, demikian juga Vany senang
berteman denganya yang bisa di ajak berbagi pengalaman mengenai pekerjaanya dan
seluk beluk kota Jakarta.
Satu tahun Vany di Jakarta sang bunda
datang menengok dan menginap di tempat kost nya daerah tomang Jakarta barat, sebenarnya
kost tempat Vany adalah masih milik pamanya yang seorang anggota dewan
kehormatan di dewan perwakilan rakyat waktu itu.
Dengan senangnya Vany memperkenalkan mas
Rey kepada bundanya sekaligus memberikan penjelasan bahwa vany benar bekerja
tidak nganggur di Jakarta ini, begitu mas Rey meyakinkan agar bundanya tidak
terlalu mengkhawatirkanya.
Dalam perjalanan waktu yang singkat di
tahun yang sama mas Rey mendapat tawaran pekerjaan di perusahaan lain dengan tawaran
gaji yang lebih tinggi dari sebelumnya perusahaanya berkantor di menara MNC
daerah kebon sirih Jakarta pusat, setelah di pertimbangkan dan atas saran orang
tuanya maka tawaran itu ia ambil lalu keluar dari bursa efek Jakarta.
Pesan kepada Vany dari mas Rey bahwa jangan
pernah merasa puas setelah mendapatkan apa yang sudah di dapat, dan terus
semangat untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik, begitu jelasnya sebelum
meninggalkan Vany partner sekaligus teman nya yang paling baik.
Namun bukan merasa jauh tapi malah merasa
dekat bagi mereka berdua setelah perpisahan pekerjaan dan perusahaanya, rasa
kangen pun muncul dalam hatinya mereka masing masing2, Vany lah yang memulainya
menghubungi mas Rey.
mereka saling bergantian berhubungan dan
komunikasi melalui telpon selulernya, terus berjalanya waktu kurang dari empat
bulan mereka sepakat untuk menyempatkan waktunya berlibur bersama, mereka
berdua jalan ke beberapa tempat wisata yang ada di Jakarta.
Malem minggu saling duduk menunggu di tugu
monas di kolam air mancur yang menari penuh warna warni, di sanalah Vany mengungkapkan isi hatinya kepada mas Rey.
“... mas, aku suka sama mas Rey” ungkap Vany
dengan muka agak malu.
“maksudnya.?” tanya mas Rey sedikit kaget.
“Vany mau jadi pacar mas Rey” dengan nada
memelas dan memegang kuat tangan kananya mas Rey yang seolah olah tak mau
kehilangan atau malah di tinggal pergi.
Reflek mata mas Rey langsung menatap ke
arah muka Vany, dengan tertatih mas Rey mengatakan “ aku sayang kamu” dan
memeluknya dengan tangan gemetar, Vany pun spontan mengeluarkan air matanya
tanda kelapangan hatinya yang telah berhari hari ia simpan perasaan itu.
bagaimana kisah selanjutnya ? BERSAMBUNG ...
